Cerpen Tetaplah Berada di Jalurmu oleh Diana Karitas - Penggaris Kertas

Penggaris Kertas

News, Tips, Layanan dan Jasa

Kamis, 17 April 2025

Cerpen Tetaplah Berada di Jalurmu oleh Diana Karitas

Tetaplah Berada di Jalurmu!
Oleh Diana Karitas


Deo pulang sekolah sambil meringis kesakitan. Ia menuntun sepedanya dengan sedikit terpincang-pincang. Celana dan baju seragamnya terlihat kotor. Keringat mengucur di dahinya. Hari itu udara memang cukup terik.




Ibu segera menyambut Deo dengan membukakan pintu pagar. Ibu pun membantu Deo memasukkan sepedanya di halaman rumah. Ibu mengambil tas Deo yang ikut kotor dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Setelah Ibu memberinya minum, Ibu memeriksa luka-luka gores di lutut dan siku Deo. Deo meringis kesakitan ketika luka-luka itu dibersihkan dan diberikan obat.

Setelah Deo mulai terlihat tenang, Ibu meminta Deo bercerita.

“Aku yang salah, Bu. Aku tidak berhati-hati. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Seandainya aku tetap berada di jalurku,” kata Deo dengan penuh penyesalan.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Nak. Terima kasih kamu telah mengakui kesalahanmu, tetapi maukah kamu menceritakan yang sebenarnya terjadi?” tanya Ibu dengan lembut.

“Deo tadi lomba balap sepeda dengan Arsyad ketika pulang sekolah, Bu. Ketika kami sampai di jalan depan toko kelontong Pak Ahmad, jalanan agak ramai. Lalu, aku melihat di situ ada trotoar yang landai dan sepi. Lalu aku naik dan bersepeda di trotoar itu.” kata Deo sambil menunduk.

“Trotoar? Hmm… Kamu pasti tahu kalau trotoar diperuntukkan untuk pejalan kaki, kan?” tanya Ibu.

“Iya, Bu. Saat itu di trotoar terlihat sepi. Jadi tanpa pikir panjang, Deo naik ke trotoar itu supaya dapat mendahului Arsyad. Tetapi Deo tidak memerhatikan ada sebongkah batu besar di tengah trotoar itu. Tanpa sengaja Deo menabrak batu besar itu dan jatuh terjerembab ke dalam got. Beruntung, got itu kering dan dangkal. Arsyad yang berada di belakangku pun segera menolong,” cerita Deo masih dengan wajah menyesal.

“Ibu bersyukur kamu hanya mengalami luka gores, Nak. Itu pelajaran berharga untukmu. Trotoar itu dibuat dengan tujuan tertentu, agar para pejalan kaki tidak berjalan di jalanan yang diperuntukkan bagi kendaraan. Semuanya itu dibuat agar tercipta keteraturan. Masyarakatpun mendapatkan kesempatan yang sama untuk menggunakan jalan umum,” jelas Ibu sambil tersenyum.

“Aku mengerti, Bu. Seharusnya aku tetap berada di jalurku, bukan di jalur yang tidak diperuntukkan buatku,” kata Deo sambil meringis.

“Baiklah kalau begitu. Luka-lukamu sudah dibersihkan dan diobati. Sekarang kamu bisa ganti baju, cuci tangan, lalu makan siang. Beristirahatlah setelah itu. Nanti sore biar Ayah yang memeriksa sepedamu,” kata Ibu sambil beranjak ke dapur menyiapkan makan siang Deo.

sumber: Buku Siswa Kelas 6 Tema 9 halaman 21


----------------------------

Hasil Analisis

1. Tema
Tema utama dari cerpen ini adalah kepatuhan terhadap aturan dan pentingnya menjaga keselamatan diri dengan tetap berada di jalur yang benar.

2. Tokoh dan Penokohan
- Deo: Anak yang aktif, penuh semangat, namun sempat lalai dan tidak hati-hati. Ia juga bertanggung jawab karena mengakui kesalahannya.
- Ibu: Sosok yang sabar, pengertian, dan penuh kasih sayang. Ia mendidik anaknya dengan bijaksana dan penuh nasihat moral.

3. Latar
- Tempat: Jalanan pulang sekolah, depan toko kelontong, rumah Deo.
- Waktu: Siang hari, sepulang sekolah.
- Suasana: Tegang saat Deo terluka, tetapi hangat dan penuh kasih saat berada di rumah.

4. Alur
Cerpen ini menggunakan alur maju. Dimulai dari:
- Deo pulang dalam keadaan terluka.
- Ibu merawat dan menanyainya dengan lembut.
- Deo menceritakan kronologi kecelakaan.
- Ibu memberi pemahaman pentingnya aturan.
- Cerita diakhiri dengan refleksi dan pemahaman dari Deo.

5. Sudut Pandang
Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, yang mengetahui pikiran dan perasaan tokoh-tokohnya.

6. Amanat / Pesan Moral
- Selalu patuhi aturan demi keselamatan bersama (contoh: trotoar untuk pejalan kaki).
- Bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.
- Pentingnya belajar dari kesalahan.
- Peran orang tua sangat penting dalam memberikan nasihat dan pemahaman kepada anak.

7. Gaya Bahasa
Bahasanya ringan, komunikatif, dan sesuai untuk anak-anak atau remaja. Dialognya terasa alami dan menyentuh, terutama interaksi antara Deo dan ibunya.

Kesimpulan
Cerpen ini mengandung pesan moral yang kuat dengan cara penyampaian yang sederhana namun mengena. Judulnya, "Tetaplah Berada di Jalurmu!", memiliki makna literal (bersepeda di jalan yang benar) dan makna simbolik (hidup sesuai aturan dan norma).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar